Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2008

Kemarin malam beres-beres kamar, bersihin tumpukan dokumen dan ketemu buku yang satu ini. Bukunya tipis kok, panduan gitu, oleh-oleh dari Candi Prambanan. Mau dibuang — sayang, Gak dibuang — menuh-menuhin tempat *.*   Jadi coba ditulis disini deh, supaya kalau mau tahu lagi cerita sejarah tentang Prambanan, bisa langsung nyari di blog *.*

begini ceritanya…

Pada jaman dahulu kala di Pulau Jawa – terutama di daerah Prambanan, berdiri 2 buah Kerajaan Hindu, yaitu Kerajaan Pengging dan Keraton Boko.

Kerajaan Pengging adalah kerajaan subur dan makmur yg dipimpin oleh seorang raja yg arif dan bijaksana bernama Prabu Damar Moyo dan mempunyai seorang laki-laki bernama Bandung Bondowoso.

Kerajaan keraton Boko berada pada wilayah Kerajaan Pengging yg diperintah oleh seorg raja yg kejam dan angkara murka yg tidak berwujud manusia tetapi berwujud seorg raksasa besar yg suka makan daging manusia — bernama Prabu Boko. Akan tetapi Prabu Boko mempunyai putri yg cantik jelita bak bidadari dari khayangan yg bernama Putri Loro Jonggrang.

Prabu Boko memiliki seorg patih yg berwujud raksasa bernama Patih Gupolo. Prabu Boko ingin memberontak dan ingin menguasai Kerajaan Pengging, maka ia dan Patih Gupolo mengumpulkan kekuatan dan bekal dengan cara melatih para pemuda menjadi prajurit dan meminta harta benda rakyat untuk bekal.

Setelah persiapan sudah dirasa cukup, maka berangkatlah Prabu Boko dan prajurit menuju ke Kerajaan Pengging untuk memberontak. Maka terjadilah perang di Kerajaan Pengging antara Prajurit Pengging dan perajurit Keraton Boko. Banyak berjatuhan korban dari kedua belah pihak dan rakyat Pengging menjadi menderita karena perang, banyak rakyat kelaparan dan kemiskinan.

Mengetahui rakyatnya menderita dan sudah banyak korban prajurit meninggal, maka Prabu Damar Moyo mengutus anaknya Raden Bandung Bondowoso maju perang melawan Prabu Boko dan terjadilah perang sangat sengit antara Raden Bandung Bondowoso melawan Prabu Boko, karena kesaktian Raden Bandung Bondowoso maka Prabu Boko dapat dibinasakan.

Melihat rajanya tewas, maka Patih Gupolo melarikan diri, maka Raden Bandung Bondowoso mengejar Patih Gupolo ke Keraton Boko.

Setelah sampai di Keraton Boko, Maha Patih Gupolo melaporkan pada Putri Loro Jonggrang bahwa ayahandanya telah tewas di medan perang, dibunuh kesatria Pengging yg bernama Raden Bandung Bondowoso. Makan menangislah Putri Loro Jonggrang, sedih ayahnya telah tewas di medan perang.

Maka sampailah Raden Bandung Bondowoso di Keraton Boko dan terkejutlah ia melihat Putri Loro Jonggrang yang cantik jelita. Maka ia ingin mempersunting putri sebagai istrinya.

Akan tetapi putri tidak mau dipersunting karena ia telah membunuh ayahnya. Maka untuk menolak pinangan Raden Bandung, Putri Loro Jonggrang mempunyai siasat yaitu apabila Raden mau mengabulkan permintaan putri, yaitu dibuatkan 1000 candi dalam 1 malam.

Raden Bandung langsung menyanggupi permintaan Putri Loro Jonggrang, dan segeralah ia membuat sumur Jala Tunda dan setelah jadi ia memanggil Putri untuk melihat sumur.

Putri Loro Jonggrang menyuruh Raden Bandung masuk ke dalam sumur, dan setelah Raden Bandung masuk sampai di bawah, putri memerintah Patih Gupolo untuk menimbun sumur dengan batu. Dan Raden Bandung pun tertimbun batu didalam sumur. Putri Loro Jonggrang dan Patih Gupolo menganggap Raden Bandung sudah mati di dalam sumur, akan tetapi di dalam sumur ternyata Raden Bandung bersemedi untuk keluar dari sumur dan ia berhasil keluar sumur dengan selamat.

Raden Bandung menemui Putri Loro Jonggrang dengan marah sekali, tetapi melihat kecantikan putri kemarahan Raden Bandung bisa mereda.

Kemudian Putri Loro Jonggrang menagih janji untuk dibuatkan 1000 candi dalam satu malam. Maka segeralah Raden Bandung memerintahkan para jin-jin untuk membuat candi, akan tetapi di lain pihak Putri Loro Jonggrang ingin menggagalkan usaha Raden Bandung membuat candi. Ia memerintahan para gadis di sekitar Prambanan untuk menumbuk padi dan membakar jerami supaya kelihatan terang untuk pertanda pagi sudah tiba dan ayampun berkokok bergantian.

Mendengar ayam berkokok dan org menumbuk padi serta ditimur kelihatan terang, maka para jin berhenti membuat candi. Jin melaporkan pada Raden Bandung Bondowoso bahwa jin tidak bisa meneruskan membuat candi yg kurang satu karena pagi sudah tiba.

Akan tetapi menurut firasan Raden Bandung, belum tiba. Maka dipanggilah Putri Loro Jonggrang disuruh menghitung candi dan ternyata jumlahnya baru 999 candi, jadi yang belum jadi tinggal satu candi lagi.

Maka Putri Loro Jonggrang tidak mau dipersunting Raden Bandung. Karena merasa ditipu dan dipermainkan makan Raden Bandung murka sekali dan mengutuk putri Loro Jonggrang: “Hai Loro Jonggrang, candi kurang satu dan genapnya seribu engkaulah orangnya”

Aneh bin ajaib, Putri Loro Jonggrang berubah ujud menjadi arca patung batu. Dan sampai sekarang arca patung Loro Jonggrang masih ada di Candi Prambanan dan Raden Bandung Bondowoso mengutuk para gadis disekitar Prambanan menjadi perawan kasep (perawan tua), karena telah membantu putri Loro Jonggrang.

Dan menurut kepercayaan orang dahulu, siapa berpacaran di Candi Prambanan akan putus cintanya.

 

Comment : Kasihan banget para gadis yg bantuin Loro Jonggrang — masa jadi perawan tua :p

Read Full Post »